Di balutan jilbab apiknya
Tersimpan kecantikan mutiara lautan surga
Ciptaan yang kata-Mu pelengkapnya Adam
Seiring letupan nuraniku yang bergema
Senyuman bulan sabit melintang
seperti cahaya bulan purnama
Mata yang kukira bongkahan intan
memecah kepekatan jiwa
Asaku ialah teka-teki cinta
bagian tulang rusukku yang hilang
Aku mendamba bidadari sepertinya
yang kalbunya sebening embun
kusandarkan hati pada bingkai nafasnya
menderu bagai udara cinta
Kujadikan dia permaisuri duniaku
yang takkan pupus oleh waktu
Kuukir namanya pada batang kisah yang tercipta sempurna dan nyata
Dia hadir untuk mengisi separuh diriku yang hilang
Jika melihatnya adalah candu
kumohon ampun pada-Mu
agar kulupakan jemarinya, suaranya
Kasihku ini tulus
setulus daun di musim semi
Cintaku ini murni
semurni mata air ibu
Setiap waktu yang merangkak
semakin meyakiniku
bahwa dialah fantasiku
Kupagari dirinya dengan nyawaku
agar tak ada duka menghapus tawanya
gar tak ada luka racuni kisahnya
Tolong jangan patahkan hatiku
Jika kuboleh meminta
patahkan saja ragunya
Tuhan, izinkan aku berjalan bersamanya
Dia…
yang juga mencintai-Mu
sepertiku
Tuhan, jadikan dia…
wanitaku
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Wednesday, May 30, 2012
Thursday, March 1, 2012
ENTAH
Sepertinya kamu
berpijak dihatiku
Mengukir langkah baru
yang belum kutemukan arahnya
Entah…
Suaramu memanggil
namaku, namun serak
Matamu memandang
senyumku, namun samar
Hatimu merasa rasaku,
namun lirih
Entah…
Kuragukan hadirmu,
namun nyata
Dapat kusentuh, namun
sulit kurasa
Indah kuingat, namun
muncul dan sirna
Entah…
Di helai daun yang
jatuh kini tertulis nama kita
Kunantikan ia terbang
atau mengering
Kunantikan, hingga
hatiku bergetar
Entah…
Pernahkah kau ingat
diriku disaat damai
Saat mentari tak
menyeruak di dalam jiwamu
Seperti waktu kita
tertawa hangat di bawah bahagia
Entah…
Saturday, February 4, 2012
NYANYIAN HUJAN
Sebuah keindahan
Segenggam kenangan
Menyibak air hujan di
antara penantian
Tak butuh waktu lama
untuk melupakan
Namun rasa seperti
luka lebam
Yang tak bisa
tersisih walau dimakan zaman
Tahukah kau keindahan
yang tak pernah tersentuh ?
Ketika kenangan kita
terbingkai utuh
Namun waktu yang
membuat kita jauh
Semakin jauh, hingga hatiku
luluh
Namun hatimu telah
lumpuh
Asa kita, telah rapuh
Aku masih melihat
wajah awan
Bergandengan mesra
berpasangan
Kita tak pernah tahu,
esok masihkah menawan ?
Hari-hari datang seperti
harapan
Aku di sini masih
berangan
Masih terhipnotis
nyanyian hujan
Tuesday, January 17, 2012
SENYUMMU
Kutapaki jejak yang
tercecer di sepanjang perjalanan kita
Terlalu rumit, bahkan
jika ku harus menunggu kata
Sejenak, aku lelah
merasa tidak karuan
Menunggumu adalah
sebuah pengorbanan
Aku rela mengalah
karena satu alasan
Ku ingin selalu
melihat senyummu yang menyejukan
Friday, January 6, 2012
MENUNGGU WAKTU
Aku menunggu waktu
Dimana hati tak lagi membeku
Menunggu singgahnya sang surya
Bersama seberkas cahaya
Aku menunggu waktu
Dimana langkah tak lagi kaku
Menunggu kereta bahagia
Menjemput sejumput luka
Aku menunggu waktu
Dimana semangat tak lagi layu
Tergilas putaran zaman
Yang berujung tangisan
Aku masih menunggu waktu
Di sisi hati yang kelabu
Dengan separuh kalbu
Menunggu langit membiru
Dimana hati tak lagi membeku
Menunggu singgahnya sang surya
Bersama seberkas cahaya
Aku menunggu waktu
Dimana langkah tak lagi kaku
Menunggu kereta bahagia
Menjemput sejumput luka
Aku menunggu waktu
Dimana semangat tak lagi layu
Tergilas putaran zaman
Yang berujung tangisan
Aku masih menunggu waktu
Di sisi hati yang kelabu
Dengan separuh kalbu
Menunggu langit membiru
Wednesday, December 21, 2011
Mother's Day
Hari ini tanggal 22 Desember, ingatkah ?
Yepp, hari ini adalah hari ibu. Ini saatnya kalian meminta maaf ibu, saatnya kalian menunjukkan kasih sayang kalian kepada ibu. Untuk setiap peluhnya, cintanya, kasihnya serta nasihatnya yang tak pernah henti.
Bukan hanya di hari ibu saja kalian mempersembahkan penghargaan terbesar untuk ibu. Namun di setiap waktu, di setiap detik mestinya kalian melakukannya, sama halnya seperti kasih ibu yang tak kenal waktu, selalu ada di setiap nafasnya.
Tahukah berapa kali ibu memikirkan kita ? Berapa kali juga kita memikirkan ibu ?
Sungguh perbandingan yang sangat jauh saya rasa. Ibu tak perlu kita beri uang banyak, harta melimpah atau mobil mewah. Ia telah bahagia ketika kita berbakti kepadanya, ketika kita tersenyum karenanya. Dan ia sungguh sangat sedih ketika kita menangis dan sakit. Ia rela mengorbankan apapun untuk mengukir senyum kita.
Sungguh, walaupun bumi lagit seisinya saya persembahkan untuk ibu. Itu tidak akan cukup membalas jasa-jasa beliau. Ini hanya sebuah puisi yang ingin saya persembahkan untuk seluruh ibu di dunia, khususnya mama tercinta..
IBU
Wahai ibu yang bening
kasihnya
Tidakkah kau tahu
betapa berharga di setiap peluhmu
Kau tak henti merajut
kesetiaan jiwa
Walau raga lemah dan
lelah
Kau tetap tertatih
untuk memegang erat tangan kami
Wahai ibu yang putih
cintanya
Taukah kau kurindukan
Di setiap untaian nada-nada
yang merdu
Di setiap spektrum rasa
aman yang kau pancarkan
Dan di setiap doa
yang melantun indah
Wahai ibu yang berhati
emas
Apa jadinya kami
tanpa dirimu ?
Kesetiaanmu takan berujung
Walau ditempa zaman
Kau tetap jadi
sandaran hati
Izinkan kami mencium
kakimu
Izinkan kami meminta
maafmu
Untuk goresan luka
yang pernah kami ukir
Aku sayang mama, aku ridu mama. Maafkan aku yang selalu membuat mama menangis, membuat mama khawatir dan untuk setiap kasih sayang yang terlewatkan untuk kuucapkan terima kasih.
Subscribe to:
Posts (Atom)




